Rabu, 03 Maret 2010

MAKALAH
SIKLUS BIOGEOKIMIA
OLEH:
NAMA : BONARDO A.A.
NIM : H1E108080

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 LINGKUNGAN
BANJARBARU
2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah siklus biogeokimia ini.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini.
Saya menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan karena keterbatasan dalam diri saya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dalam pembuatan makalah yang selanjutnya.


Banjarbaru, Februari 2010
Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
1. 2 Batasan Masalah
1. 3 Tujuan Penulisan
1. 4 Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2. 1 Definisi siklus bigeokimia
2. 2 Siklus air
2. 3 Siklus karbon
2. 4 Siklus nitrogen
2. 5 Siklus oksigen
2. 6 Siklus belerang (sulfur)
2. 7 Siklus fosforBAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
Udara, air, tanah, kehidupan dan teknologi saling berkaitan secara erat. Atmosfer merupakan lapisan tipis gas-gas yang menyelimuti permukaan bumi, memegang peranan penting sebagai tempat penampungan (reservoir) dari berbagai macam gas. Atmosfer juga menyeimbangkan panas bumi, mengabsorbsi energi dan merusak radiasi ultra violet yang datang dari matahari. Selain itu atmosfer juga berfungsi untuk memindahkan energi panas dari wilayah ekuator, serta berfungsi sebagai jalan atau media pergerakan air pada fase uap dalam siklus hidrologi.
Hidrosfer mengandung air bumi. Lebih dari 97% dari air bumi berupa lautan, dan sisa nya berupa air tawar dalam bentuk es. Air laut mengalami sirkulasi dalam lingkungan, proses-proses sirkulasi tersebut terjadi dalam atmosfer, dalam sumber air dan dalam air permukaan seperti saluran air, sungai-sungai, danau-danau, waduk-waduk, dan penampungan-penampungan air.
Geosfer terdiri dari padatan bumi meliputi tanah yang sangat mendukung kehidupan tumbuhan. Bagian dari geosfer yang langsung terlibat dengan proses-proses lingkungan melalui kontak dengan atmosfer, hidrosfer, dan semua kehidupan adalah litosfer. Semua kehidupan yang ada di bumi membentuk geosfer.
Komponen-komponen abiotik yaitu udara, air, tanah dan komponen biotik saling berkaiatan membentuk suatu sistem yang disebut ekosistem. Ekosistem terdiri dari interaksi yang menguntungkan antara organisme-organisme dengan lingkungannya dimana terjadi pertukaran dari sejumlah besar material dalam bentuk siklus yang dikenal dengan siklus materi. Siklus materi menyangkut materi yang terdiri dari bahan-bahan kimia, termasuk di dalamnya media kehidupan. Bahan-bahan kimia yang termasuk penyusun kehidupan yang paling banyak yaitu karbon, nitrogen, oksigen, hidrogen, belerang, dan fosfor. Perjalanan atau aliran bahan-bahan kimia dalam ekosistem global di bumi ini ternyata berbentuk lingkaran yang dikenal dengan siklus biogeokimia.

1. 2. Batasan Masalah
Dalam makalah ini penulis membatasi masalah yang dibahas, yaitu mengenai definisi singkat siklus bigeokimia, siklus air, siklus karbon, siklus nitrogen, siklus oksigen, siklus belerang (sulfur), siklus fosfor. Pembatasan masalah yang dilakukan oleh penulis, agar pokok masalah yang dibahas tidak terlalu meluas sehingga makalah ini dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti.

1. 3 Tujuan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka makalah ini bertujuan untuk mengupas mengenai Definisi singkat siklus bigeokimia, Siklus air, Siklus karbon, Siklus nitrogen, Siklus oksigen, Siklus belerang (sulfur), Siklus fosfor. Dan diharapkan dengan adanya penjelasan ini dapat menambah wawasan kita untuk menjaga lingkungan demi kelangsungan hidup selanjutnya.

1. 4. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah berupa kajian pustaka, pencarian data di internet dan pemikiran yang didapatkan dari pengalaman dan studi di Fakultas Teknik Lingkungan UNLAM Banjarbaru. Hal ini dimaksudkan untuk menambah referensi penulisan makalah ini guna meyakinkan pembaca dari isi laporan ini.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Siklus Biogeokimia
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Materi yang berupa unsur-unsur terdapat dalam senyawa kimia yang merupakan materi dasar makhluk hidup dan tak hidup.
Siklus biogeokimia atau siklus organik-anorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia hanya melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga disebut siklus biogeokimia.
Fungsi siklus biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga (anonim(1)).

2. Siklus Air
Air merupakan salah satu senyawa kimia yang terdapat di alam secara melimpah-limpah. Namun ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan manusia relatif sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor. Lebih dari 97% air dimuka bumi ini merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh manusia secara langsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% diantaranya tersimpan sebagai gunung es (glacier) di kutub dan uap air yang juga tidak dapat dimanfaatkan secara langsung. Air yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0,62%, meliputi air yang terdapat di danau, sungai, dan air tanah. Jika ditinjau dari segi kualitas, air yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air yang ada.
Air tawar yang tersedia selalu mengalami siklus hidrologi. Pergantian total (replacement) air sungai berlangsung sekitar 18-20 tahun, sedangkan pergantian uap air yang terdapat di atmosfer berlangsung sekitar 12 hari dan pergantian air tanah dalam (deep groundwater) membutuhkan waktu ratusan tahun.Air tawar tersebar secara tidak merata karena adanya perbedaan curah hujan (presipitasi) tahunan. Wilayah yang kaya akan air terdapat di daerah tropis dan daerah yang memiliki empat musim, sedangkan wilayah yang miskin air terdapat di daerah kering.

Gbr. siklus air

Siklus air atau disebut juga sebagai siklus hidrologi merupakan sirkulasi air yang berkelanjutan antara lautan, atmosfer, biosfer, tanah dan batuan di geosfer. Siklus hidrologi air tergantung pada proses evaporasi dan presipitasi. Air yang terdapat di permukaan bumi berubah menjadi uap air di lapisan atmosfer melalui proses evaporasi (penguapan) air sungai, danau, dan laut, serta proses evapotranspirasi atau penguapan air oleh tanaman. Uap air bergerak ke atas hingga membentuk awan yang dapat berpindah karena tiupan angin. Ruang udara yang terdapat akumulasi uap air secara kontinu akan menjadi jenuh. Oleh pengaruh udara dingin pada lapisan atmosfer, uap air tersebut mengalami sublimasi sehingga butiran-butiran uap air membesar dan akhirnya jatuh sebagai hujan. Zat yang masih higrokopis (menyerap air) dapat mempercepat integrasi pengikatan molekul uap air menjadi air. Sehingga pada pembuatan hujan buatan dilakukan penambahan zat yang bersifat higrokopis terhadap awan (NaCl atau urea).
Proses evaporasi yang berlangsung di laut lebih banyak dari pada proses evaporasi di perairan daratan. Di laut, proses evaporasi juga melebihi proses presipitasi sehingga lautan merupakan sumber air utama bagi proses presipitasi. Sebaliknya, di daratan proses presipitasi lebih banyak dari evaporasi. Di daratan, sekitar 50% air yang diperoleh melalui presipitasi akan mengalami evaporasi; dan sisanya tersimpan di danau, sungai, maupun sebagai air tanah.
Air yang jatuh sebagai hujan tidak semuanya dapat mencapai permukaan tanah, sebagian tertahan oleh vegetasi dan bangunan. Air yang mencapai permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah dan menjadi air tanah melalui proses infiltrasi; sebagian lagi mengalir ke badan air sebagai air permukaan.Kuantitas air yang mampu diserap oleh tanah sangat tergantung pada kondisi fisik tanah, misalnya bobot isi (bobot tanah per satuan volume tanah), permeabilitas (daya tanah melalukan air), infiltrasi (daya tanah meresapkan air), porositas (jumlah volume udara yang terkandung dalam tanah), dan struktur tanah (bentukan hasil penyusunan butiran-butiran tanah). Sebelum mencapai jenuh, air masih dapat diserap oleh tanah. Jika telah melebihi kejenuhan, air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan dialirkan sebagai limpasan permukaan (surface run off) ke badan air (Stiyati, 2008).

3. Siklus Karbon
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan di antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi. Dalam siklus ini terdapat empat reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoir-reservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (termasuk freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil carbon), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan non-hayati), dan sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan tahuan karbon, pertukaran karbon antar reservoir terjadi karena proses-proses kimia, fisika, geologi, dan biologi yang bermacam-macam. Lautan mengadung kolam aktif karbon terbesar, namun demikian laut dalam bagian dari kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer. Neraca karbon global adalah kesetimbangan pertukaran karbon (antara yang masuk dan keluar) antar reservoir karbon atau antara satu putaran (loop) spesifik siklus karbon (misalnya atmosfer - biosfer). Analisis neraca karbon dari sebuah kolam atau reservoir dapat memberikan informasi tentang apakah kolam atau reservoir berfungsi sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon dioksida.

a. Karbon di atmosfer

Gbr. Diagram dari siklus karbon

Bagian terbesar dari karbon yang berada di atmosfer bumi adalah gas karbon dioksida (CO2). Meskipun jumlah gas ini merupakan bagian yang sangat kecil dari seluruh gas yang ada di atmosfer, namun memiliki peran yang penting dalam menyokong kehidupan. Gas-gas lain yang mengandung karbon di atmosfer adalah metan dan kloroflorokarbon atau CFC (CFC ini merupakan gas artifisial atau buatan). Gas-gas tersebut adalah gas rumah kaca yang konsentrasinya di atmosfer telah bertambah dalam dekade terakhir ini, dan berperan dalam pemanasan global.
Karbon diambil dari atmosfer dengan berbagai cara:
a. Ketika matahari bersinar, tumbuhan melakukan fotosintesa untuk mengubah karbon dioksida menjadi karbohidrat, dan melepaskan oksigen ke atmosfer. Proses ini akan lebih banyak menyerap karbon pada hutan dengan tumbuhan yang baru saja tumbuh atau hutan yang sedang mengalami pertumbuhan yang cepat.
b. Pada permukaan laut ke arah kutub, air laut menjadi lebih dingin dan CO2 akan lebih mudah larut. Selanjutnya CO2 yang larut tersebut akan terbawa oleh sirkulasi termohalin yang membawa massa air di permukaan yang lebih berat ke kedalaman laut atau interior laut.
c. Di laut bagian atas (upper ocean), pada daerah dengan produktivitas yang tinggi, organisme membentuk jaringan yang mengandung karbon, beberapa organisme juga membentuk cangkang karbonat dan bagian-bagian tubuh lainnya yang keras. Proses ini akan menyebabkan aliran karbon ke bawah.
d. Pelapukan batuan silikat. Tidak seperti dua proses sebelumnya, proses ini tidak memindahkan karbon ke dalam reservoir yang siap untuk kembali ke atmosfer. Pelapukan batuan karbonat tidak memiliki efek netto terhadap CO2 atmosferik karena ion bikarbonat yang terbentuk terbawa ke laut dimana selanjutnya dipakai untuk membuat karbonat laut dengan reaksi yang sebaliknya (reverse reaction).Karbon dapat kembali ke atmosfer dengan berbagai cara pula, yaitu:
a) Melalui pernafasan (respirasi) oleh tumbuhan dan binatang. Hal ini merupakan reaksi eksotermik dan termasuk juga di dalamnya penguraian glukosa (atau molekul organik lainnya) menjadi karbon dioksida dan air.
b) Melalui pembusukan binatang dan tumbuhan. Fungi atau jamur dan bakteri mengurai senyawa karbon pada binatang dan tumbuhan yang mati dan mengubah karbon menjadi karbon dioksida jika tersedia oksigen, atau menjadi metana jika tidak tersedia oksigen.
c) Melalui pembakaran material organik yang mengoksidasi karbon yang terkandung menghasilkan karbon dioksida (juga yang lainnya seperti asap). Pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, produk dari industri perminyakan (petroleum), dan gas alam akan melepaskan karbon yang sudah tersimpan selama jutaan tahun di dalam geosfer. Hal inilah yang merupakan penyebab utama naiknya jumlah karbon dioksida di atmosfer.
d) Produksi semen. Salah satu komponennya, yaitu kapur atau gamping atau kalsium oksida, dihasilkan dengan cara memanaskan batu kapur atau batu gamping yang akan menghasilkan juga karbon dioksida dalam jumlah yang banyak.
e) Di permukaan laut dimana air menjadi lebih hangat, karbon dioksida terlarut dilepas kembali ke atmosfer. f) Erupsi vulkanik atau ledakan gunung berapi akan melepaskan gas ke atmosfer. Gas-gas tersebut termasuk uap air, karbon dioksida, dan belerang. Jumlah karbon dioksida yang dilepas ke atmosfer secara kasar hampir sama dengan jumlah karbon dioksida yang hilang dari atmosfer akibat pelapukan silikat; Kedua proses kimia ini yang saling berkebalikan ini akan memberikan hasil penjumlahan yang sama dengan nol dan tidak berpengaruh terhadap jumlah karbon dioksida di atmosfer dalam skala waktu yang kurang dari 100.000 tahun.

b. Karbon di biosfer
Sekitar 1900 gigaton karbon ada di dalam biosfer. Karbon adalah bagian yang penting dalam kehidupan di Bumi. Karbon memiliki peran yang penting dalam struktur, biokimia, dan nutrisi pada semua sel makhluk hidup. Dan kehidupan memiliki peranan yang penting dalam siklus karbon: Autotroph adalah organisme yang menghasilkan senyawa organiknya sendiri dengan menggunakan karbon dioksida yang berasal dari udara dan air di sekitar tempat mereka hidup. Untuk menghasilkan senyawa organik tersebut mereka membutuhkan sumber energi dari luar. Hampir sebagian besar autotroph menggunakan radiasi matahari untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, dan proses produksi ini disebut sebagai fotosintesis. Sebagian kecil autotroph memanfaatkan sumber energi kimia, dan disebut kemosintesis. Autotroph yang terpenting dalam siklus karbon adalah pohon-pohonan di hutan dan daratan dan fitoplankton di laut.Fotosintesis memiliki reaksi: 6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2
Karbon dipindahkan di dalam biosfer sebagai makanan heterotrop pada organisme lain atau bagiannya (seperti buah-buahan). Termasuk di dalamnya pemanfaatan material organik yang mati (detritus) oleh jamur dan bakteri untuk fermentasi atau penguraian.
Sebagian besar karbon meninggalkan biosfer melalui pernafasan atau respirasi. Ketika tersedia oksigen, respirasi aerobik terjadi, yang melepaskan karbon dioksida ke udara atau air di sekitarnya dengan reaksi C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O. Pada keadaan tanpa oksigen, respirasi anaerobik lah yang terjadi, yang melepaskan metan ke lingkungan sekitarnya yang akhirnya berpindah ke atmosfer atau hidrosfer.
Pembakaran biomassa (seperti kebakaran hutan, kayu yang digunakan untuk tungku penghangat atau kayu bakar, dll.) dapat juga memindahkan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang banyak.

c. Karbon di laut
Laut mengandung sekitar 36.000 gigaton karbon, dimana sebagian besar dalam bentuk ion bikarbonat. Karbon anorganik, yaitu senyawa karbon tanpa ikatan karbon-karbon atau karbon-hidrogen. Pertukaran karbon ini menjadi penting dalam mengontrol pH di laut dan juga dapat berubah sebagai sumber (source) atau lubuk (sink) karbon. Pada daerah upwelling, karbon dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2) berpindah dari atmosfer ke lautan. Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat terbentu:
CO2 + H2O ⇌ H2CO3
Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan kimia.
Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah pelepasan ion hidrogen dan bikarbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:
H2CO3 ⇌ H+ + HCO3−

d. Model siklus karbon
Model siklus karbon dapat digabungkan ke dalam model iklim global, sehingga reaksi interaktif dari lautan dan biosfer terhadap nilai CO2 di masa depan dapat dimodelkan. Ada ketidakpastian yang besar dalam model ini, baik dalam sub model fisika maupun biokimia (khususnya pada sub model terakhir). Model-model seperti itu biasanya menunjukkan bahwa ada timbal balik yang positif antara temperatur dan CO2. Sebagai contoh, Zeng dkk. (GRL, 2004) menemukan dalam model mereka bahwa terdapat pemanasan ekstra sebesar 0,6°C yang sebaliknya dapat menambah jumlah CO2 atmosferik yang lebih besar, (anonim(2)).

4. Siklus Nitrogen

Gbr. siklus nitrogen

Gas nitrogen banyak terdapat di atmosfer, yaitu 80% udara. Siklus nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah. Selain air hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/petir. Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa ammonia (NH3), ion nitrit (NO2-), dan ion nitrat (NO3-), (anonim(3)).
Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan mati, bakteri pengurai merombaknya menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+). Proses ini disebut dengan amonifikasi. Bakteri Nitrosomonas dan nitrosococcus mengubah amoniak dan senyawa ammonium menjadi nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan.
Pada saat oksigen berkurang, nitrat (NO3-) akan diubah menjadi nitrogen (N2) oleh bakteri, sehingga terjadi pelepasan gas oksigen (O2). Proses ini dinamakan denitrifikasi yang pada umumnya dilakukan oleh bakteri Pseudomonas, Paracoccus denitrificans, Escherichia coli.
NO3 NO2 - NO N2O N2

Denitrifikasi
Denitrifikasi merupakan suatu proses yang penting di alam, yaitu mekanisme dimana hasil fiksasi nitrogen dikembalikan ke atmosfer. Dengan cara inilah siklus nitrogen akan berulang di ekosistem.
1/5 NO3- + 1/4 (CH2O) + 1/5 H+ 1/10 N2 + 1/4 CO2 + 7/20 H2O
Proses ini juga penting dalam pengolahan air lanjutan untuk menghilangkan hara nitrogen.

5. Siklus Oksigen
Oksigen merupakan unsur yang vital bagi kehidupan di bumi ini. siklus ini berkaitan erat dengan siklus unsur lainnya, terutama dengan siklus karbon. Unsur oksigen menjadi yang terikat secara kimia melalui berbagai proses yang menghasilkan energi, terutama pada perubahan dan proses metabolik dalam organisme. Oksigen dilepaskan dari reaksi fotosintesis. Unsur ini secara cepat bersenyawa membentuk oksida-oksida, seperti dengan karbon dalam respirasi aerobik atau dengan karbon dan hidrogen dalam perubahan bahan bakar fosil seperti dengan metana.
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
Suatu aspek yang sangat penting dari siklus di stratosfer, yaitu proses pembentukan ozon. Ozon membentuk lapisan tipis di stratosfer yang berfungsi sebagai filter dari radiasi ultraviolet, dengan demikian dapat menjaga kehidupan di bumi dari kerusakan/kehancuran yang disebabkan oleh radiasi ini.
Siklus oksigen disempurnakan atau diakhiri ketika unsur oksigen masuk kembali ke atmosfer dalam bentuk gas. Hanya satu cara yang signifikan dima yaitu melalui fotosintesis yang dilakukan tumbuhan. Siklus hydrogen tidak dibuat tersendiri karena di alam ini hydrogen paling banyak terlihat dalam bentuk senyawa air, H2O.

6. Siklus Belerang (Sulfur)
Sumber sulfur dalam ekosistem antara lain :
Sulfur yang berada di atmosfer secara alami berasal dari letusan gunung berapi yang berupa hidrogen sulfida.
Sulfur sebagian besar tersimpan dalam batuan bumi. Sulfur dapat terlepas dari batuan bumi karena erosi oleh angin dan air.
Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat anorganik. Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida ini seringkali mematikan mahluk hidup di perairan dan pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik yang mati. Tumbuhan menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO4).

Gbr. siklus belerang

Perpindahan sulfat terjadi melalui proses rantai makanan, lalu semua mahluk hidup mati dan akan diuraikan komponen organiknya oleh bakteri. Beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara lain desulfomaculum dan desulfibrio yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof anaerob seperti Chromatium yang melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur di oksidasi menjadi sulfat oleh bakteri Kmolitotrof seperti Thiobacillus (anonim(4)).
Siklus belerang relatif kompleks dimana melibatkan berbagai macam gas, mineral-mineral yang sukar larut dan beberapa spesi lainnya dalam larutan. Siklus ini berkaitan dengan siklus oksigen dimana belerang bergabung dengan oksigen membentuk gas belerang oksida (SO2) sebagai bahan pencemar air. Diantara spesi-spesi yang secara signifikan terlihat dalam siklus belerang adalah gas hidrogen sulfida (H2S), mineral-mineral seperti Pbs, asam sulfat (H2SO4), belerang oksida (SO2) sebagai komponen utama dari hujan asam, dan belerang yang terikat dalam protein.
Yang merupakan bagian dari siklus belerang yang sangat penting adalah adanya gas SO2 sebagai bahan pencemar dan H2SO4 dalam atmosfer. Gas SO2 dikeluarkan dari pembakaran bahan baker fosil yang mengandung belerang. Efek utama dari belerang dioksida dalam atmosfer adalah kecenderungan untuk teroksidasi menghasilkan asam sulfat. Asam ini dapat menyebabkan terjadinya hujan asam.

7. Siklus Fosfor
Gbr. siklus fosfor

siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil. Oleh karena itu siklus fosfor adalah “endogenic”. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam mineral-mineral yang sedikit sekali larut, seperti hidroksiapilit dan garam kalsium.
Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Fosfor terlarut dari mineral-mineral fosfat dan sumber-sumber lainnya, seperti pupuk fosfat, diserap oleh tanaman dan tergabung dalam asam nukleat yang menyusun material genetik dalam organisme. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut, (anonim(3)). Oleh karena itu, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi.
Anthrosphere adalah reservoir fosfor yang penting dalam lingkungan. Sejumlah besar dari mineral-mineral fosfat digunakan sebagai bahan pupuk, industri kimia, dan “food additives”. Fosfor merupakan salah satu komponen dari senyawa-senyawa sangat toksik, terutama insektisida organofosfat.


BAB III

KESIMPULAN

Hal-hal yang dapat disimpulkan dari makalah ini adalah :
Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.
Fungsi siklus biogeokimia adalah sebagai siklus materi yang mengembalikan semua unsur-unsur kimia yang sudah terpakai oleh semua yang ada di bumi baik komponen biotik maupun komponen abiotik, sehingga kelangsungan hidup di bumi dapat terjaga.
Siklus karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer bumi. Karbon di alam ini mengalami sirkulasi melalui suatu siklus. Siklus ini memperlihatkan bahwa karbon bisa terdapat sebagai gas CO2 penyusun udara, yang konsentrasinya sangat kecil tetapi sangat menentukan karbon secara global.
Siklus nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah. Selain air hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen.
Siklus oksigen berkaitan sangat erat dengan siklus unsur lainnya, terutama dengan siklus karbon. Unsur oksigen menjadi yang terikat secara kimia melalui berbagai proses yang menghasilkan energi, terutama pada perubahan dan proses metabolik dalam organisme.
Siklus belerang relatif kompleks dimana melibatkan berbagai macam gas, mineral-mineral yang sukar larut dan beberapa spesi lainnya dalam larutan. Siklus ini berkaitan dengan siklus oksigen dimana belerang bergabung dengan oksigen membentuk gas belerang oksida (SO2) sebagai bahan pencemar air.
Siklus fosfor, bersifat kritis karena fosfor secara umum merupakan hara yang terbatas dalam ekosistem. Tidak ada bentuk gas dari fosfor yang stabil. Oleh karena itu siklus fosfor adalah “endogenic”. Dalam geosfer, fosfor terdapat dalam jumlah besar dalam mineral-mineral yang sedikit sekali larut, seperti hidroksiapilit dan garam kalsium.

Daftar Pustaka

Anonim(1), http://www.slideshare.net/.../mater-yang-menyusun-tubuh-organisme-berasal-dari-bumf-
Diakses tanggal 25 februari 2010
Anonim(2), http://id.wikipedia.org/wiki/siklus_karbon
Diakses tanggal 25 februari 2010
Anonim (3), http://free.vism.org/v12/sponsor/sponsor../0032%20bio%201-7c.htm
Diakses tanggal 25 februari 2010
Stiyati, 2008. http://lookaraoundusnow.blogspot.com/2008_04_20_archive.html
Diakses tanggal 25 februari 2010

Jumat, 26 Februari 2010

Tugas Resmi Kimia Llingkungan "Bencana Seveso"

BENCANA SEVESO




OLEH :

KELOMPOK 5

1. BONARDO AGUSTINUS A. H1E108080
2. DWINUR JANREZA H1E109031
3. M. RINALDI NUR H1E109017
4. FRANSISCA DWIPUTRI G. H1E109052


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGAM STUDI S-1 LINGKUNGAN
BANJARBARU
2010


KATA PENGANTAR


Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah sistem pengolahan dan penyediaan air bersih ini.
Saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini.
Saya menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan karena keterbatasan dalam diri saya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dalam pembuatan makalah yang selanjutnya.




Banjarbaru, Februari 2010




Penyusun


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan1.4 Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Terjadinya Bencana Seveso
2.2 Penyebab dan Dampak Dari Bencana Seveso
2.3 Penanggulangan Bencana Seveso
BAB III PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada umumnya makhluk hidup bergantung pada keadaan lingkungan di sekitarnya yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Sumber daya alam yang utama bagi manusia adalah tanah, air, dan udara. Tanah merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Air sangat diperlukan oleh manusia sebagai bagian terbesar dari tubuh manusia. Selain itu, udara merupakan sumber oksigen alami bagi pernafasan manusia. Lingkungan yang sehat akan terwujud jika manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik. Secara garis besar komponen lingkungan dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok biotik (flora darat dan air, fauna darat dan air), kelompok abiotik ( ladang, air dan udara) dan kelompok kultur (ekonomi, sosial, budaya serta kesehatan masyarakat).
Lingkungan hidup perlu ditangani dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya yaitu adanya masalah mengenai keadaan lingkungan hidup seperti pencemaran air, tanah maupun udara.
Terjadinya pencemaran pada lingkungan dapat memberikan dampak langsung maupun tidak langsung terhadap makhluk hidup di sekitarnya. Kecenderungan pencemaran yang mengakibatkan masalah lingkungan akhir-akhir ini biasanya mengarah kepada 2 hal yaitu:
1. Pembuangan senyawa-senyawa kimia tertentu yang semakin meningkat, terutama pembakaran minyak bumi.
2. Meningkatnya penggunaan Bahan Berbahaya Beracun (B3) oleh berbagai kegiatan industri dengan pembuangan limbahnya ke lingkungan (Stiyati, 2008).
Terkait dengan 2 hal tersebut, perlu adanya perhatian khusus terhadap penggunaan bahan kimia dalam kegiatan industri. Kelalaian pada proses industri dapat menimbulkan kecelakaan fatal serta mengakibatkan pencemaran bahan kimia berbahaya, seperti yang terjadi di Seveso, Italia 33 tahun yang lalu.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telas dijelaskan, maka dapat dibuat perumusan masalah sebagai berikut:
a. Terjadinya Bencana Seveso.
b. Penyebab dan Dampak Dari Bencana Seveso.
c. Penanggulangan Bencana Seveso.

1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis untuk memberi pengetahuan kepada pembaca mengenai kecelakaan industri yang terjadi di Seveso, Italia dan diharapkan para pembaca dapat mengambil pelajaran positif dari peristiwa tersebut.

1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode kepustakaan, yaitu mengambil data dari internet.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Terjadinya Bencana Seveso
Pada tanggal 10 Juli 1976, sekitar tengah hari di sebuah pabrik kimia sebelah utara Milan di wilayah Lombardia, Italia terjadi ledakan pada sebuah reaktor TCP (2,4,5-trichlorophenol) dari pabrik kimia ICMESA (Industrie Chimiche Meda Società Azionaria). Awan yang mengandung TCDD (2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin) yang merupakan salah satu zat kimia paling beracun buatan manusia ini, secara tidak sengaja dilepaskan ke atmosfer. Peristiwa ini dikenal secara internasional sebagai bencana Seveso (anonim 2009).









Gbr. a) Peta Seveso
http://www.unu.edu/.../unupbooks/uu21le/uu21le06.jpg








Gbr
. b) Situasi Seveso http://files.myopera.com/thetomster/files/seveso_002.jpg

2.2 Penyebab dan Dampak Dari Bencana Seveso



Reaksi ini harus dilakukan pada suhu di atas proses normal utilitas, sehingga diputuskan untuk menggunakan pembuangan uap dari turbin listrik di lokasi, dan menyebarkannya di sekitar koil pemanas eksternal pada reaktor. Pembuangan uap ini dilakukan pada 12 bar dan 190 ° C, menghasilkan campuran reaksi pada 158 ° C (dengan titik didih 160 ° C). Pada kesempatan ini, proses batch terputus sebelum menyelesaikan langkah terakhir penghapusan ethylene glycol oleh distilasi. Hal ini menyebabkan beban pada turbin turun, sehingga mengakibatkan pembuangan suhu uap meningkat sekitar 300 ° C . Bets ini kemudian dihentikan dengan mengisolasi uap, dan mematikan pengaduk. Akhirnya katup buang membuka dan 6 ton bahan tersebar lebih dari 18 km ² per wilayah, termasuk 1 kg 2,3,7,8-tetrachlorodibenzodioxin (TCDD) yang biasanya terlihat dalam jumlah kurang dari 1 ppm (bagian per juta). Namun dalam kondisi temperatur tinggi, produksi TCDD mencapai 100 ppm atau lebih (Huda 2008).
Daerah yang terkena dampak dibagi menjadi zona A, B dan R dalam urutan penurunan permukaan tanah konsentrasi TCDD. Zona A terbagi menjadi 7 sub-zona. Penduduk setempat disarankan untuk tidak menyentuh atau makan buah dan sayuran lokal.
• Konsentrasi TCDD pada zona A > 50 mikrogram per meter persegi (μg / m²), dengan sekitar 736 jiwa penduduk.
• Konsentrasi TCDD pada zona B antara 5 dan 50 μg / m², dengan sekitar 4.700 jiwa penduduk.
• Konsentrasi TCDD pada Zona R <5>












Gbr. c) bencana Seveso http://www.sustainable-design.ie/fire/saietfire1.jpg











Gbr. d) pabrik hangus http:// toxipedia.org/.../9353/Seveso.chem.jpg

2.3 Penanggulangan Bencana Seveso
Penanggulangan bencana Seveso terdiri dari beberapa tahapan proses, yaitu:
• Tahapan Proses Operasi Pembersihan
Pada Januari 1977, sebuah rencana yang terdiri dari analisis ilmiah, bantuan ekonomi, pemantauan dan pemulihan medis / dekontaminasi selesai setelah ICMESA membayar kompensasi kepada para korban. Kemudian operasi dekontaminasi musim semi dimulai dan pada bulan Juni sistem epidemiologi pemantauan kesehatan bagi 220.000 orang diluncurkan. Pada bulan September Komite Pengarah Internasional telah dibuat, dibantu dengan "ahli terkenal dari seluruh dunia", dalam rangka untuk menilai data ilmiah yang dihasilkan. Pada bulan Februari 1984 Komite Pengarah Internasional merilis laporan akhir menyatakan bahwa "dengan pengecualian chloracne, tidak ada efek penyakit yang dapat dikaitkan dengan TCDD".
Pada bulan Juni 1978, pemerintah Italia menaikkan pinjaman menjadi £ 40-115 milyar. Pada akhir tahun, beberapa orang mengklaim bahwa kompensasi telah diselesaikan di luar pengadilan. Pada tanggal 2 Februari 1980, Paolo Paoletti direktur produksi di ICMESA dibunuh di Monza oleh seorang anggota organisasi teroris radikal Italia. Pada tanggal 19 Desember 1980 wakil-wakil ICMESA dari Region Lombardia / Republik Italia dan Givaudan menandatangani sebuah kesepakatan kompensasi di hadapan perdana menteri Italia, Arnaldo Forlani.
• Tahapan Proses Pembersihan dari Limbah
Pembersihan limbah dari tanaman adalah dengan menggunakan pakaian pelindung dan membersihkan residu bahan kimia dari tanaman. Sampah ini dikemas dalam drum limbah yang telah dirancang untuk penyimpanan limbah nuklir. Telah disepakati bahwa limbah akan dibuang dengan cara hukum.
Untuk tujuan ini, pada musim semi 1982, perusahaan Mannesmann Italiana dikontrak untuk membuang bahan-bahan kimia yang terkontaminasi dari Zona A. Mannesmann Italiana memutuskan bahwa tidak akan memberitahu mengenai lokasi pembuangan untuk Givaudan, hal tersebut mendorong Givaudan menunjuk seorang notaris untuk menjamin pembuangan tersebut. Pada bulan September , 941 barel limbah beracun ICMESA dibuang dari tempat itu. Pada 13 Desember, notaris memberikan pernyataan di bawah sumpah bahwa limbah telah dibuang dengan cara yang disetujui.
Namun, pada bulan Februari 1983, program "A bon entendeur" pada Television Suisse Romande, sebuah saluran TV bahasa Perancis di Swiss, mengikuti rute barel untuk Saint-Quentin di bagian utara Perancis di mana limbah tersebut dibuang. Debat publik terjadi, ketika banyak teori diajukan. Ditemukan bahwa Mannesmann Italiana telah mempekerjakan dua subkontraktor untuk membuang limbah beracun. Pada 19 Mei, 41 barel yang ditemukan di Anguilcourt-le-Sart, sebuah desa di utara Perancis. Dari sana limbah tersebut dipindahkan ke pangkalan militer Prancis dekat Sissonne. Pada 25 November, lebih dari sembilan tahun setelah bencana, Roche Group (induk perusahaan dari Givaudan) mengeluarkan pernyataan publik bahwa limbah beracun yang terdiri dari 42 barel telah dibakar di Swiss. New Scientist mengira bahwa isi klorin tinggi limbah dapat menyebabkan kerusakan insinerator yang digunakan oleh Roche pada temperatur tinggi, tapi Roche menyatakan bahwa mereka akan membakar sampah di insinerator dan kemudian memperbaikinya jika rusak. Mereka menyatakan bahwa mereka ingin mengambil tanggung jawab atas penghancuran limbah yang aman.
• Tahapan Proses Pidana Kasus Pengadilan
Pada bulan September, Pengadilan Kriminal Monza menjatuhkan hukuman kepada lima mantan karyawan ICMESA atau perusahaan induknya Givaudan, untuk masing-masing hukuman penjara mulai dari 2,5 tahun sampai 5 tahun, tetapi mereka mengajukan banding.
Pada bulan Mei 1985, Pengadilan Banding di Milan menemukan tiga dari lima terdakwa tidak bersalah, dua masih menghadapi tuntutan naik banding ke Mahkamah Agung di Roma (anonim, 2009).

BAB III
KESIMPULAN

Operasi keamanan ditangani oleh direktur perusahaan dan pemerintah daerah. Beberapa studi ilmiah telah memastikan tingkat bahaya yang ditimbulkan TCDD. Konfrontasi dengan racun yang tak terlihat mungkin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. "Dalam konteks ketegangan seperti itu, Seveso menjadi contoh di mana semua konflik yang ada dalam masyarakat (politik, kelembagaan, agama, industri) tercermin. Namun, dalam waktu yang relatif singkat konflik seperti itu mereda dan pemulihan masyarakat mulai baerjalan. Dalam kecelakaan Seveso pihak yang bertanggung jawab sejak awal segera menawarkan perbaikan. Selain itu, pada akhirnya hilangnya pabrik itu sendiri dan ekspor fisik dari zat beracun serta tercemarnya tanah memungkinkan masyarakat untuk mendapat ganti rugi. resolusi untuk efek-efek emosional setelah terjadinya trauma adalah mementingkan pemulihan suatu komunitas masyarakat.
Peraturan keselamatan industri berlaku dalam Masyarakat Eropa pada tahun 1982 yang disebut dengan Seveso Directive yang jauh lebih berat dari peraturan industri di negara lain. Seveso Directive telah diupdate pada tahun 1999, diubah lagi pada tahun 2005 dan saat ini disebut sebagai Seveso II Directive (atau COMAH Peraturan di Inggris Raya).
Dapat dikatakan bahwa Seveso adalah suatu bencana yang konsekuensinya belum diidentifikasi. Beberapa studi kesehatan masyarakat di sekitarnya telah selesai, dan diitetapkan bahwa orang-orang dari Seveso yang terkena TCDD lebih rentan terhadap kanker.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009. http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org /wiki/Seveso_disaster

Diakses tanggal 16 Februari 2010

Huda, Thorik. 2008. http://thoriq.wordpress.com/2008/04/04/dioksin-penyebab-kanker/
Diakses tanggal 16 Februari 2010

Stiyati, Nopi P. 2008. Bahan Kuliah Masalah-masalah Lingkungan Global. Banjarbaru: Universitas Lambung Mangkurat

Peta Seveso: http://www.unu.edu/.../unupbooks/uu21le/uu21le06.jpg
Diakses tanggal 16 Februari 2010

Situasi Seveso: http://files.myopera.com/thetomster/files/seveso_002.jpg
Diakses tanggal 16 Februari 2010

Bencana Seveso: http://www.sustainable-design.ie/fire/saietfire1.jpg
Diakses tanggal 16 Februari 2010

Pabrik hangus: http:// toxipedia.org/.../9353/Seveso.chem.jpg
Diakses tanggal 16 Februari 2010

Kamis, 25 Februari 2010

Tugas Kimia Lingkungan



Tugas Kimia Lingkungan
1. Cari arti dan konversi satuan berikut:
a. Ppm.
b. Ppb.
c. Mg/l
2. Jelaskan mengenai DDT ?
3. Jelaskan penyebab pemanasan global ?

Jawab:

1. a. Ppm atau “Part per Million” jika dibahasa Indonesiakan akan menjadi “Bagian per Sejuta Bagian” adalah satuan konsentrasi yang sering dipergunakan dalam cabang Kimia Analisa. Satuan ini sering digunakan untuk menunjukkan kandungan suatu senyawa dalam suatu larutan misalnya kandungan garam dalam air laut, kandungan polutan dalam sungai, atau biasanya kandungan yodium dalam garam juga dinyatakan dalam ppm. Konsentrasi ppm merupakan perbandingan antara berapa bagian senyawa dalam satu juta bagian suatu sistem. Ppm di gunakan untuk mengukur konsentrasi zat yang sangat rendah.
http://belajarkimia.com/definisi-ppm-part-per-million-atau-bagian-per-sejuta-bagian.
Diakses tanggal 16 februari 2010.

b. Ppb “bagian per miliar ” digunakan untuk mengukur konsentrasi suatu kontaminan dalam tanah dan sedimen. Dalam kasus 1 ppb sama dengan 1 µg per kg zat padat (µg/kg). Ppb juga kadang-kadang digunakan untuk menggambarkan konsentrasi kecil dalam air, di mana 1 ppb adalah setara dengan 1 µg/l karena satu liter air beratnya kurang lebih 1000000 µg. Penggunaan ppb ini cendrung bertahap dalam mendukung µg/l. Selain itu, ppb sering digunakan untuk menggambarkan konsentrasi kontaminan di udara (sebagai fraksi volume). Dalam kasus ini konversi ppb untuk µg/m3 tergantung pada berat molekul dari kontaminan. http://www.greenfacts.org/glossary/pqrs/parts-per-billion.htm.
Diakses tanggal 16 februari 2010.

c. Sebuah gram per liter (g / L) atau liter adalah satuan pengukuran konsentrasi massa (kimia) yang menunjukkan berapa banyak gram dari suatu zat yang ada dalam satu liter dari cairan atau campuran gas. Satuan ini bukan satuan SI karena mengandung satuan non-SI "liter". Satuan SI (massa) konsentrasi adalah kilogram per meter kubik, yang setara numerik (1 g / L = 1 kg / m³). Awalan SI sering diterapkan sehingga ada unit seperti miligram per liter (mg / L). Ketika mengukur konsentrasi dalam air, bagian per juta adalah ungkapan yang lebih lama dari mg / L, karena satu liter air di bawah kondisi standar berat satu kilogram atau satu juta miligram. Miligram per liter sering digunakan dalam kedokteran dan juga digunakan di antara resep. Sebagai contoh, kita diberi solusi yang melibatkan satu substansi dari zat lain dan salah satu dari zat-zat melibatkan penambahan air yang akan menjadi: "10 mg / L air”.
http://en.wikipedia.org/wiki/Gram_per_litre.
diakses tanggal 16 februari 2010.

Konversi satuan ppm, ppb, mg/l
1,000,000ppm = 100 %
100,000 ppm = 10 %
10,000 ppm = 1 %
1000 ppm = 0.1 %
100 ppm = 0.01 %
10 ppm = 0.001 %
1 ppm = 0.0001 %

1000 ppb = 1 ppm
100 ppb = 0.1 ppm
10 ppb = 0.01 ppm
1 ppb = 0.001 ppm

1000 ppt = 0.001 ppm
100 ppt = 0.0001 ppm
10 ppt = 0.00001 ppm
1 ppt = 0.000001 ppm

1000 ppt = 1 ppb
100 ppt = 0.1 ppb
10 ppt = 0.01 ppb
1 ppt = 0.001 ppb
Hubungan TDS/ PPM dan EC
1 μS/cm = 1 x 10-6 S/cm
1 S/cm = 1 Mho/cm
1 μS/cm = 0.5 ppm
1 ppm = 2 μS/cm
2K ppm = 4K μS/cm = 4 mS/cm = ¼K Ohm = 250 Ohm
250 ppm = 0,5K μS/cm = 0,5 mS/cm = 1/0,5K Ohm = 2K Ohm
10 ppm = 20 μS/cm = 1/20M Ohm = 0,05M Ohm = 50K Ohm
http://insansainsprojects.wordpress.com/tds-meter.
Diakses tanggal 16 februari 2010.

1 mg / L = 1 ppm
asumsi: 1 cm kubik air murni => 1g
1 mg 1 g 1 cu cm 1 bagian
------ = ------------------ X ---------- = ----------------- = 1 ppm ------ = ------------------ X ---------- = ------------- ---- = 1 ppm
1 liter 1 juta cu cm 1 gram juta bagian
Catatan: 1 liter = 1000 cm kubik
http://wiki.answers.com/Q/Convert_mgl_to_ppm.
Diakses tanggal 16 februari 2010.

2. DDT (dichloro diphenyl trichloroethane) adalah salah satu sintetis pestisida yang paling terkenal. Pertama disintesis pada tahun 1874, dan digunakan dengan sukses dalam Perang Dunia II untuk mengendalikan malaria dan tifus di kalangan warga sipil dan tentara. Kimiawan Swiss Paul Hermann Müller dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada 1948 "untuk penemuan efisiensi tinggi DDT sebagai racun kontak terhadap beberapa arthropoda”. Setelah perang, DDT dibuat untuk digunakan sebagai pertanian insektisida. Pada tahun 1962, seorang ahli Biologi Amerika bernama Rachel Carson menerbitkan buku Silent Spring. Buku katalog ini membahas tentang dampak lingkungan dari sembarang penyemprotan DDT di Amerika Serikat dan mempertanyakan logika melepaskan bahan kimia dalam jumlah besar ke lingkungan tanpa sepenuhnya memahami efeknya terhadap ekologi atau kesehatan manusia. Buku ini menyatakan bahwa DDT dan pestisida lain dapat menyebabkan kanker dan pertanian mereka adalah ancaman bagi satwa liar, terutama burung. Publikasi buku ini adalah salah satu peristiwa tanda tangan dalam kelahiran gerakan lingkungan, dan menghasilkan kemarahan publik yang akhirnya menghasilkan larangan DDT di Amerika Serikat pada 1972. DDT kemudian dilarang untuk pertanian di seluruh dunia di bawah Stockholm konvensi, tetapi terbatas digunakan dalam vektor penyakit DNS berlanjut hingga hari ini dan masih kontroversial. Seiring dengan berlalunya dari Endangered Species Act, larangan AS DDT dikutip oleh para ilmuwan sebagai faktor utama dalam kembalinya dari elang botak itu, burung nasional Amerika Serikat, dari terancam punah.
Sifat dan Kimia
DDT adalah organochlorine, mirip dengan struktur insektisida methoxychlor dan acaricide dicofol. DDT sangat hidrofobik, tidak berwarna, kristalin padat dan lemah, bau. Hampir tidak larut dalam air tetapi kelarutan yang baik dalam kebanyakan organik pelarut, lemak, dan minyak. DDT tidak terbentuk secara alami, tetapi dihasilkan oleh reaksi chloral (CCl 3 CHO) dengan chlorobenzene (C 6 H 5 Cl) di hadapan asam sulfat, yang bertindak sebagai katalis. DDT nama dagang yang telah dipasarkan di bawah termasuk Anofex, Cezarex, Chlorophenothane, Clofenotane, Dicophane, Dinocide, Gesarol, Guesapon, Guesarol, Gyron, Ixodex, Neocid, Neocidol, dan Zerdane.

Isomer dan Senyawa Terkait










Gbr. o, p '-DDT, sebuah komponen kecil DDT komersial.

DDT komersial sebenarnya adalah campuran dari beberapa senyawa yang berkaitan erat. Komponen utama (77%) adalah p, p isomer yang digambarkan di bagian atas. Yang o, p 'isomer (digambarkan ke kanan) juga hadir dalam jumlah yang signifikan (15%). Dichlorodiphenyldichloroethylene (DDE) dan dichlorodiphenyldichloroethane (DDD) membentuk keseimbangan. DDD DDE juga merupakan metabolit utama dan produk pemecahan dari DDT dalam lingkungan. Istilah "total DDT" sering digunakan untuk merujuk pada jumlah semua senyawa terkait DDT (p, p-DDT, o, p - DDT, DDE, dan DDD) dalam sampel.

Produksi dan Statistik Penggunaan
Dari tahun 1950 hingga 1980, ketika DDT banyak digunakan dalam pertanian, lebih dari 40.000 ton digunakan setiap tahun di seluruh dunia dan telah diperkirakan bahwa jumlah total 1,8 juta ton DDT telah diproduksi secara global sejak 1940-an. Di Amerika Serikat, DDT diproduksi oleh Ciba, Montrose Chemical Company, Pennwalt dan Velsicol Chemical Corporation, produksi mencapai puncaknya pada tahun 1963 yakni 82.000 ton per tahun. Lebih dari 600.000 ton (1.35 miliar lbs) yang diterapkan di Amerika Serikat sebelum tahun 1972 larangan, dengan penggunaan memuncak pada tahun 1959 dengan sekitar 36.000 ton diterapkan pada tahun itu. Saat ini, 4000-5000 ton DDT digunakan setiap tahun untuk mengontrol malaria dan visceral leishmaniasis, dengan India sebagai konsumen terbesar. India, Cina, dan Korea Utara adalah satu-satunya negara yang masih memproduksi dan mengekspor, dan produksi dilaporkan meningkat.

Mekanisme Aksi
Pada serangga, DDT memiliki sifat insektisida ampuh, di mana ia membunuh dengan membuka saluran ion natrium di neuron, sehingga secara spontan menimbulkan kejang dan akhirnya mati. Serangga dengan mutasi tertentu pada struktur genetik saluran natrium akan resisten terhadap DDT dan insektisida sejenis lainnya. Pada manusia, hal itu mungkin mempengaruhi kesehatan melalui genotoxicity atau gangguan endokrin.

Sejarah













Gbr. Produk komersial yang mengandung 5% DDT.

Pertama disintesis tahun 1874 oleh Othmar Zeidler, tetapi properti insektisida yang mengandung DDT belum ditemukan hingga tahun 1939. Akhirnya pada tahun 1948, seorang ilmuwan Swiss dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi dan Kedokteran untuk usahanya dalam menemukan DDT.

Penggunaan di tahun 1940-an dan 1950-an

DDT adalah yang paling terkenal dari sejumlah klorin yang mengandung pestisida yang digunakan pada 1940-an dan 1950-an. Dengan pyrethrum, DDT digunakan secara luas selama Perang Dunia II oleh Sekutu untuk mengendalikan vektor serangga dari tifus dan menghilangkan penyakit di berbagai bagian Eropa. Di Pasifik Selatan, DDT disemprotkan untuk pengendalian malaria dengan efek yang spektakuler. Sementara itu, kemajuan dalam peralatan aplikasi digabungkan dengan organisasi tingkat tinggi dan tenaga kerja yang memadai juga merupakan unsur-unsur penting dalam keberhasilan program penyemprotan pada masa perang ini. Pada tahun 1945, DDT disediakan bagi petani sebagai insektisida pertanian. DDT memainkan peran kecil dalam pemberantasan malaria di Eropa dan Amerika Utara, karena malaria telah dihilangkan dari banyak negara maju sebelum munculnya DDT melalui penggunaan berbagai ukuran kesehatan masyarakat dan secara umum meningkatkan kesehatan dan standar hidup.
Pada tahun 1955, Organisasi Kesehatan Dunia memulai program untuk memberantas malaria di seluruh dunia, dengan mengandalkan DDT. Program ini pada awalnya sangat sukses, menghilangkan penyakit di Taiwan, Karibia, Balkan, Afrika bagian utara, Australia bagian utara, dan secara dramatis mengurangi angka kematian pada Sri Lanka dan India. Namun perlawanan segera muncul dalam banyak populasi serangga sebagai akibat dari penggunaan DDT di lahan pertanian secara luas. Di banyak daerah, kemenangan awal melawan malaria terbalik sebagian atau seluruhnya, dan dalam beberapa kasus bahkan tingkat penularan meningkat. Program ini berhasil menghilangkan malaria hanya di daerah-daerah dengan "status sosial-ekonomi yang tinggi, sistem kesehatan yang terorganisasi dengan baik, dan transmisi malaria relatif kurang intensif atau musiman ".
DDT kurang efektif di daerah tropis karena siklus hidup nyamuk yang terus menerus dan infrastruktur yang buruk. Di sub-Sahara Afrika karena kesulitan yang dirasakan ini, mengakibatkan tingkat kematian di daerah tidak pernah berkurang secara dramatis, dan sekarang malaria merupakan penyebab sebagian besar kematian di seluruh dunia, terutama setelah kebangkitan penyakit akibat resistensi mikroba terhadap obat anti-malaria dan varian penyebaran malaria yang mematikan yang disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Tujuan pemberantasan dihentikankan pada tahun 1969, dan kemudian tindakan berfokus pada pengendalian dan pengobatan penyakit. Program penyemprotan (terutama menggunakan DDT) dibatasi karena keprihatinan atas keselamatan dan dampak lingkungan, serta masalah dalam administrasi, pengaturan keuangan dan pelaksanaan, tetapi kendala terbesar adalah nyamuk menjadi kebal terhadap DDT. Upaya telah bergeser dari penyemprotan ke penggunaan kelambu diresapi dengan insektisida dan intervensi lain.

Silent Spring dan Larangan AS
Pada awal tahun 1940-an, para ilmuwan di Amerika Serikat mulai menunjukkan kekhawatiran atas kemungkinan adanya bahaya yang terkait dengan DDT, dan pada tahun 1950-an pemerintah mulai menetapkan beberapa peraturan mengenai penggunaan DDT. Namun, pada awalnya kegiatan ini kurang mendapat perhatian hingga tahun 1957, ketika New York Times melaporkan perjuangan yang belum berhasil untuk membatasi penggunaan DDT di Nassau County, New York, masalah ini menarik perhatian seorang penulis naturalis populer, Rachel Carson. William Shawn, editor The New Yorker, mendorongnya untuk menulis artikel tentang topik ini, yang dikembangkan menjadi buku Silent Spring, yang diterbitkan pada tahun 1962. Buku ini menuliskan bahwa pestisida, termasuk DDT adalah racun bagi satwa liar dan lingkungan dan juga membahayakan kesehatan manusia.
Silent Spring meraih penjualan terbaik, dan menimbulkan reaksi public untuk meluncurkan gerakan lingkungan modern di Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian, Presiden Kennedy memerintahkan Penasihat Science Komite untuk menyelidiki klaim Carson. Laporan yang dikeluarkan komite menambahkan dengan cukup teliti akan pembenaran dari tesis Rachel Carson dalam Silent Spring. DDT menjadi target utama gerakan anti-kimia dan anti-gerakan pestisida, dan pada tahun 1967 sekelompok ilmuwan dan pengacara mendirikan Environmental Defense Fund (EDF) dengan tujuan spesifik untuk memenangkan sebuah larangan DDT. Yannacone Victor, Charles Wurster, Seni Cooley dan lain-lain yang terkait dengan lahirnya EDF mencurigaikan DDT merupakan penyebab terbunuhnya burung atau penurunan populasi burung. Dalam kampanye mereka mengenai bahan kimia, EDF mengajukan petisi kepada pemerintah untuk melarang penggunaan DDT dan mengajukan serangkaian tuntutan hukum. Pada saat ini, David Peakall sedang mengukur tingkat toksisitas DDT dalam telur burung elang dari luar negeri.
Dalam menanggapi EDF, Pengadilan Distrik AS banding pada tahun 1971 memerintahkan EPA untuk memulai prosedur pendaftaran untuk DDT. Setelah enam bulan awal proses pemeriksaan, William Ruckelshaus, Badan Pelaksana menolak penghentian segera registrasi DDT, mengutip penelitian dari staf internal EPA menyatakan bahwa DDT tidak berbahaya bagi kesehatan manusia dan satwa liar. Namun, temuan anggota staf ini dikritik keputusan untuk tidak melarang penggunaan DDT menjadi kontroversi publik.
EPA kemudian mengadakan audiensi tujuh bulan di 1971-1972, di sini para ilmuwan memberikan bukti yang kuat untuk larangan penggunaan DDT. Pada musim panas 1972, Ruckelshaus mengumumkan pembatalan sebagian besar penggunaan DDT terkecuali pada penggunaan di bidang kesehatan masyarakat dalam kondisi tertentu. Setelah pembatalan itu diumumkan, baik EDF dan pabrik DDT mengajukan gugatan terhadap EPA, pihak industri berusaha untuk membalikkan larangan, dan EDF mencari larangan yang komprehensif. Kasus itu dikonsolidasikan. Pada tahun 1973 di Amerika Serikat, Pengadilan Banding Distrik Columbia memutuskan bahwa EPA telah bertindak dengan benar dalam melarang DDT.
Beberapa penggunaan DDT terus dilakukan di bawah pengecualian kesehatan masyarakat. Sebagai contoh, pada bulan Juni 1979, Departemen Pelayanan Kesehatan California mengizinkan untuk menggunakan DDT dalam usaha menekan vektor pes. DDT juga terus diproduksi di Amerika Serikat untuk pasar luar negeri sampai dengan akhir tahun 1985, lebih dari 300 ton diekspor.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, penggunaan DDT di bidang pertanian dilarang pada sebagian besar negara maju, mulai dari Hungaria pada 1968 kemudian Norwegia dan Swedia pada 1970, dan Amerika Serikat pada tahun 1972, tetapi tidak dilarang di Kerajaan Inggris sampai 1984. Penggunaan DDT dalam pengendalian vektor belum dilarang, tetapi telah digantikan oleh insektisida alternatif.
Para Konvensi Stockholm, yang mulai berlaku tahun 2004, melarang beberapa polutan organik, dan membatasi penggunaan DDT untuk pengendalian vektor. Konvensi telah diratifikasi lebih dari 160 negara dan didukung oleh sebagian besar kelompok-kelompok lingkungan hidup. Menyadari bahwa penghapusan penggunaan DDT di negara-negara yang rawan malaria saat ini tidak layak karena ada beberapa alternatif yang efektif, kesehatan publik penggunaan DDT dibebaskan dari larangan sampai alternatif dikembangkan. Malaria Foundation International yang menyatakan bahwa "Hasil dari perjanjian yang dapat diperdebatkan lebih baik daripada status quo akan masuk ke perundingan ... Untuk pertama kalinya, sekarang ada insektisida yang dibatasi hanya untuk pengendalian vektor, yang berarti bahwa pemilihan resisten nyamuk akan lebih lambat daripada sebelumnya.
Walaupun di seluruh dunia terdapat larangan penggunaan DDT di bidang pertanian, namun penggunaannya dalam konteks ini terus berlanjut di India, Korea Utara, dan mungkin di tempat lain.
Saat ini, sekitar 4-5,000 ton DDT digunakan setiap tahun untuk pengendalian vektor. Dalam konteks ini, DDT diterapkan pada dinding bagian dalam rumah untuk membunuh atau mengusir nyamuk. Intervensi ini, disebut Indoor Sisa Penyemprotan (IRS), sangat mengurangi kerusakan lingkungan dibandingkan dengan penggunaan DDT sebelumnya di bidang pertanian. Hal ini juga mengurangi risiko resistensi terhadap DDT. DDT hanya digunakan dalam jumlah kecil dalam pertanian, misalnya, jumlah DDT yang mungkin telah digunakan pada 40 hektar (99 hektar) dari kapas selama khas musim tanam di AS diperkirakan cukup untuk mengobati sekitar 1.700 rumah.

Dampak Lingkungan
DDT adalah polutan organik persisten yang sangat hidrofobik dan sangat diserap oleh tanah. Tergantung pada kondisi tanah, degradasi dapat terjadi berkisar dari 22 hari sampai 30 tahun. Rute kehilangan dan degradasi termasuk limpasan, penguapan, fotolisis dan biodegradasi aerobik dan anaerobik. Ketika diterapkan pada ekosistem perairan maka dengan cepat diserap oleh organisme dan oleh tanah atau menguap, meninggalkan sedikit DDT terlarut dalam air itu sendiri. Dengan rincian produk dan metabolit, DDE dan DDD, juga sangat kuat dan memiliki sifat kimia dan fisika yang sama. Produk-produk ini dikenal sebagai "total DDT".
DDT, DDE, dan DDD membesar melalui rantai makanan, dengan apex predator seperti Raptors memiliki konsentrasi bahan-bahan kimia yang lebih tinggi daripada binatang lain di lingkungan yang sama. DDT, DDE, dan DDD bersifat sangat lipofilik dan disimpan di lemak tubuh. DDT dan DDE sangat resisten terhadap metabolisme pada manusia. Di Amerika Serikat, bahan kimia ini terdeteksi di hampir semua sampel darah manusia yang diuji oleh Centers for Disease Control pada tahun 2005, walaupun tingkat bahan kimia ini telah menurun tajam karena sebagian besar penggunaan dilarang di Amerika Serikat. Perkiraan asupan makanan juga telah menurun, meskipun itu masih sering terdeteksi di sampel makanan yang diuji oleh FDA.
Ganggang laut (rumput laut) bertindak sebagai agen Bioremediasi dan dapat mengurangi toksisitas tanah yang tercemar oleh DDT hingga 80% dalam waktu enam minggu.

Efek Pada Satwa Liar
DDT adalah racun bagi berbagai macam binatang selain serangga. DDT sangat berbahaya bagi kehidupan perairan, termasuk udang karang, daphnids, udang laut dan berbagai jenis ikan. DDT tidak terlalu berbahaya untuk mamalia tetapi sangat rentan pada kucing. DDT sangat beracun untuk beberapa spesies amfibi, terutama dalam tahap larva. Yang paling terkenal adalah racun reproduksi spesies burung tertentu, dan merupakan alasan utama untuk penurunan populasi elang botak, Pelican cokelat , elang pemburu, dan osprey.

Efek-Efek Pada Kesehatan Manusia
Potensi mekanisme DDT pada manusia bersifat genotoxicity dan menyebabkan gangguan endokrin. DDT mungkin telah langsung genotoxicity, tetapi dapat juga menyebabkan enzim yang menghasilkan genotoksik intermediet lain dan penambahan DNA. Ini adalah pengganggu endokrin; DDT metabolit DDE bertindak sebagai antiandrogen (tetapi tidak dalam bentuk estrogen).

Akut Toksisitas
DDT diklasifikasikan sebagai racun oleh National Toxicology Program (NTP), Amerika Serikat dan "cukup berbahaya" oleh WHO, berdasarkan pengujian pada tikus LD 50 dari 113 mg / kg.

Kronis Toksisitas
a.Diabetes
Senyawa organochlorine umumnya, dan DDT DDE khususnya, telah dikaitkan dengan diabetes. Sejumlah penelitian dari Amerika Serikat, Kanada, dan Swedia telah menemukan bahwa prevalensi penyakit dalam sebuah populasi meningkat dengan peningkatan serum level DDT atau DDE dalam darah.

B. Perkembangan Dan Toksisitas Reproduksi
DDT dan DDE, seperti organoklorin lain, telah terbukti mempunyai aktivitas xenoestrogenic, yang berarti mereka secara kimiawi cukup serupa dengan estrogen untuk memicu respons hormonal pada hewan. Ini mengganggu aktivitas endokrin setelah diamati penelitian yang melibatkan tikus dan tikus, dan tersedia bukti-bukti epidemiologi yang menunjukkan bahwa efek ini dapat terjadi pada manusia sebagai akibat dari paparan DDT. Oleh karena itu, ada kekhawatiran bahwa DDT dapat menyebabkan keracunan perkembangan dan reproduksi.
Paparan terhadap DDT (baik sebagai petani atau pekerja pengendalian malaria) telah terhubung dengan:
• Masalah-masalah neurologis
• Asma

Carcinogenicity
DDT dicurigai menyebabkan kanker. NTP mengklasifikasikan DDT sebagai "cukup diantisipasi manusia menjadi karsinogen", dan mengelompokkan EPA DDT, DDE, dan DDD sebagai kelas B2 "kemungkinan" karsinogen manusia. The International Agency for Research on Cancer mengklasifikasikan itu adalah sebagai "mungkin" karsinogen manusia. Evaluasi ini didasarkan terutama pada hasil penelitian pada hewan.
Ada bukti epidemiologi (penelitian pada manusia yaitu) bahwa DDT menyebabkan kanker:
• Hati
• Pankreas
• Payudara
Ada bukti bahwa itu dicampur kanker kontribusi:
• Darah (yaitu Leukemia)
• Testis
• Sistem limfatik (yaitu non-Hodgkin Limfoma)
Sebaliknya, studi epidemiologi menunjukkan bahwa DDT / DDE tidak menyebabkan kanker:
• Plasma, (yaitu multiple myeloma)
• Prostat
• Endometrium
• Dubur
• Paru-paru
• Kandung kemih
• Perut

DDT Digunakan Untuk Malaria
Malaria masih merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang utama di banyak bagian dunia. The World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2008 terdapat 243 juta kasus, mengakibatkan 863.000 kematian. Sekitar 89% kematian ini terjadi di Afrika, dan terutama untuk anak-anak di bawah usia 5 tahun. Penyemprotan DDT adalah salah satu dari sekian banyak intervensi kesehatan masyarakat sekarang ini digunakan untuk melawan penyakit.
DDT adalah salah satu dari 12 insektisida disetujui oleh WHO untuk IRS, dan DDT perdebatan kontemporer berkisar sekitar berapa banyak peran yang harus dimainkan dalam kimia campuran strategi ini.


Kritik Terhadap Pembatasan Pada Penggunaan DDT
Kritikus mengklaim bahwa pembatasan penggunaan DDT dalam pengendalian vektor telah mengakibatkan sejumlah besar kematian yang disebabkan oleh malaria. Perkiraan jumlah kematian ini berkisar dari ratusan ribu, menurut Nicholas Kristof. Robert Gwadz dari Institut Kesehatan Nasional mengatakan pada tahun 2007 bahwa "Larangan DDT mungkin telah membunuh 20 juta anak-anak."
Investigasi wartawan Adam Sarvana dan lain-lain, ciri gagasan ini sebagai "mitos" dipromosikan terutama oleh Roger Bate pro -DDT kelompok advokasi Afrika Memerangi Malaria (AFM) dalam pelayanan anti-peraturan, pasar bebas ideologi.
http://en.wikipedia.org/wiki/DDT
diakses tanggal 16 februari 2010

3. Penyebab pemanasan global adalah:
Pemanasan global terjadi sangat cepat yang disebabkan juga oleh peningkatan efek rumah kaca. Efek rumah kaca di sebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bahar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuh-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya. Energi yang masuk ke bumi mengalami: 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer, 25% diserap awan, 45% diadsorpsi permukaan bumi, 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi. Energi yang diadsorpsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumpermukaan bumi. Namun sebagian infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) Dan nitrogen dioksida (NO2) serta senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.

Sumber Gas Rumah Kaca Yang Menyebabkan Pemanasan Global:


1. Peternakan
Sumbangan sektor peternakan terhadap pemanasan global sekitar 18,6 % lebih besar dari sumbangan sektor transportasi di dunia yang menyumbang sekitar 13,12 %. Selain itu, sektor peternakan dunia juga menyumbang 37% metana (72 kali lebih kuat daripada CO2 selama rentang waktu 20 tahun) dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2).
sektor peternakan yang menyumbang emisi gas rumah kaca. Berikut garis besarnya menurut FAO:

• Emisi karbon dari pembuatan pakan ternak

a. Penggunaan bahan bakar fosil dalam pembuatan pupuk menyumbang 41 juta ton CO2 setiap tahunnya
b. Penggunaan bahan bakar fosil di peternakan menyumbang 90 juta ton CO2 per tahunnya (misal diesel atau LPG)
c. Alih fungsi lahan yang digunakan untuk peternakan menyumbang 2,4 milyar ton CO2 per tahunnya, termasuk di sini lahan yang diubah untuk merumput ternak, lahan yang diubah untuk menanam kacang kedelai sebagai makanan ternak, atau pembukaan hutan untuk lahan peternakan
d. Karbon yang terlepas dari pengolahan tanah pertanian untuk pakan ternak (misal jagung, gandum, atau kacang kedelai) dapat mencapai 28 juta CO2 per tahunnya. Perlu Anda ketahui, setidaknya 80% panen kacang kedelai dan 50% panen jagung di dunia digunakan sebagai makanan ternak.
e. Karbon yang terlepas dari padang rumput karena terkikis menjadi gurun menyumbang 100 juta ton CO2 per tahunnya

• Emisi karbon dari sistem pencernaan hewan

a. Metana yang dilepaskan dalam proses pencernaan hewan dapat mencapai 86 juta ton per tahunnya.
b. Metana yang terlepas dari pupuk kotoran hewan dapat mencapai 18 juta ton per tahunnya.

• Emisi karbon dari pengolahan dan pengangkutan daging hewan ternak ke konsumen

a. Emisi CO2 dari pengolahan daging dapat mencapai puluhan juta ton per tahun.
b. Emisi CO2 dari pengangkutan produk hewan ternak dapat mencapai lebih dari 0,8 juta ton per tahun.

2. Pembangkit Energi
powerplant1 Sektor energi merupakan sumber penting gas rumah kaca, khususnya karena energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, seperti minyak, gas, dan batu bara, di mana batu bara banyak digunakan untuk menghasilkan listrik.9 Sumbangan sektor energi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 25,9%.

3. Industri
Sumbangan sektor industri terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 19,4%.2 Sebagian besar sumbangan sektor industri ini berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik atau dari produksi C02 secara langsung sebagai bagian dari pemrosesannya, misalnya saja dalam produksi semen. Hampir semua emisi gas rumah kaca dari sektor ini berasal dari industri besi, baja, kimia, pupuk, semen, kaca dan keramik, serta kertas

4. Pertanian
Sumbangan sektor pertanian terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 13,5%.2 Sumber emisi gas rumah kaca pertama-tama berasal dari pengerjaan tanah dan pembukaan hutan. Selanjutnya, berasal dari penggunaan bahan bakar fosil untuk pembuatan pupuk dan zat kimia lain. Penggunaan mesin dalam pembajakan, penyemaian, penyemprotan, dan pemanenan menyumbang banyak gas rumah kaca. Yang terakhir, emisi gas rumah kaca berasal dari pengangkutan hasil panen dari lahan pertanian ke pasar

5. Alih Fungsi Lahan dan Pembabatan Hutan
deforestationSumber lain C02 berasal dari alih fungsi lahan di mana ia bertanggung jawab sebesar 17.4%.2 Pohon dan tanaman menyerap karbon selagi mereka hidup. Ketika pohon atau tanaman membusuk atau dibakar, sebagian besar karbon yang mereka simpan dilepaskan kembali ke atmosfer.9 Pembabatan hutan juga melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah. Bila hutan itu tidak segera direboisasi, tanah itu kemudian akan menyerap jauh lebih sedikit CO2.

6. Transportasi
Sumbangan seluruh sektor transportasi terhadap emisi gas rumah kaca mencapai 13,1%.3 Sektor transportasi dapat dibagi menjadi transportasi darat, laut, udara, dan kereta api. Sumbangan terbesar terhadap perubahan iklim berasal dari transportasi darat (79,5%), disusul kemudian oleh transportasi udara (13%), transportasi laut (7%), dan terakhir kereta api (0,5%).9

7. Hunian dan Bangunan Komersial
Sektor hunian dan bangunan bertanggung jawab sebesar 7,9%.2 Namun, bila dipandang dari penggunaan energi, maka hunian dan bangunan komersial bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang besar. Misalnya saja dalam penggunaan listrik untuk menghangatkan dan mendinginkan ruangan, pencahayaan, penggunaan alat-alat rumah tangga, maka sumbangan sektor hunian dan bangunan bisa mencapai 30%.9 Konstruksi bangunan juga mempengaruhi tingkat emisi gas rumah kaca. Sebagai contohnya, semen, menyumbang 5% emisi gas rumah kaca.

8. Sampah
Limbah sampah menyumbang 3,6% emisi gas rumah kaca.2 Sampah di sini bisa berasal dari sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (2%) atau dari air limbah atau jenis limbah lainnya (1,6%). Gas rumah kaca yang berperan terutama adalah metana, yang berasal dari proses pembusukan sampah tersebut.
http://Info pemanasanglobal.wordpress.com/.../penyebabpemanasanglobal/
diakses tanggal 16 februari 2010.